Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

HUT IDI: EKSISTENSI IDI DI TENGAH PANDEMI COVID-19 DAN ISU SATU TEMPAT PRAKTEK

Minggu, 24 Oktober 2021 | 10:36 WIB | 0 Views Last Updated 2021-10-24T02:36:38Z

 

HUT IDI:

EKSISTENSI IDI DI TENGAH PANDEMI COVID-19 DAN ISU SATU TEMPAT PRAKTEK

Dr. dr. Ampera Matippanna.


Sebagai salah satu organisasi profesi tertua di Indonesia Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terus begerak maju dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dan masyarakat

yang lebih baik dan bermutu sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran mutahir,

berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pasien, yang dilaksanakan sesuai dengan standar

pelayanan yang berlaku.

Meskipun telah berusia cukup tua dengan segala kemapanannnya, tidak jarang organisasi

profesi yang mulia ini (nobile officum) diterpa berbagai tudingan miring dan kritikan pedas

atas ulah atau perbuatan para anggotanya yang bekerja tidak mengindahkan mode etik

profesi dan bahkan melakukan perbuatan melawan hukum baik secara formula ataupun

materil.

Terlepas dari berbagai tudingan miring dan kritikan pedas tersebut, IDI tetap setia dalam

panggilan pelayanannya yaitu sebagai wadah yang menghimpun para profesional dokter

yang fokus pada upaya kemanusiaan yaitu mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan

perorangan (pasien) secara paripurna dalam rangka upaya penyembuhan dan pemulihan

kesehatan pasien.

Sebagai mana lafal sumpah dokter, IDI senantiasa melakukan pembinaan-pembinaan agar

para dokter tetap berkiprah dengan mempotensikan seluruh ilmu dan pengetahuan

kedokteran yang dilimilkinya dipergunakan semata untuk kepentingan dan keselamatan

pasien, menjunjung tinggi hak-hak pasien dan menjalankan profesi sesuai dengan tradisi

luhur kedokteran dan menjaga harkat dan martabat profesi kedokteran.

Termasuk dalam situasi pandemi covid-19 yang belum usai, IDI melalui para dokter terus

berjibaku sebagai Garda utama dalam memberikan pelayanan medis kepada pasien yang

terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka tidak tetap setia memberikan pelayanan kesehatan,

meski taruhannya adalah keselamatan diri sendiri dan keluarga. Menjadi seorang dokter itu

bukan sekedar pilihan tetapi panggilan hati nurani.


Tidak sedikit dokter dan atau keluarganya harus gugur sebagai patriot pejuang

kemanusiaan, tanpa penghargaan yang layak, bahkan hingga kini insentif tenaga kesehatan

yang dijanjikan oleh pemerintah masih banyak daerah yang belum mendapatkannya.

Meskipun demikian kondisi yang dihadapi, mereka tetap melangkah maju dengan gagah

perwira,sebagaimana semboyan perjuangan "gugur satu tumbuh seribu " demikianlah IDI

terus bergerak untuk kemanusiaan dan untuk Indonesia.

Disaat IDI sementara bergelut menghadapi Covid-19, kini muncul desas-desus pembatasan

praktek dokter yang mensyaratkan satu dokter, satu tempat praktek pelayanan. Ini bukan

perkara yang mudah karena selain berimplikasi kemanusiaan juga berimplikasi

kesejahteraan bagi dokter. Di satu sisi dokter dibutuhkan oleh masyarakat, dilain sisi dokter

dibatasi oleh aturan tidak boleh ber praktek diluar rumah sakit tempat penempatannya. Ini

bisa menjadi bumerang bagi Rumah Sakit-Rumah sakit tertentu yang tidak memiliki dokter

spesialis tetap di rumah sakit nya. Sehingga harus menggangkat dokter spesialis tetap

tentunya dengan dengan salary yang cukup mahal dan bahkan mungkin turut membebani

biaya kesehatan bagi pasien pada Rumah Sakit yang bersifat profit.

Tentunya, apapun regulasi dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah baik dalam hal

kebijakan pandemi CoVid-19, maupun dalam pembatasan praktek dokter dengan satu

tempat praktek, Kewajiban dokter adalah tetap memberikan pelayanan kesehatan yang

terbaik untuk kemanusiaan. Sebagaimana asas etik moral yang melandasi pelayanan

kedokteran " Sa science, sa sequence " (Ya ilmunya, ya hatinya) dan asas "agroti salus lex"

Supreme" (keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi) .

Selamat Hari Ulang Tahun IDI, 24 Olktober 2021.


Jayalah IDI

Sehatlah Indonesia

Sejahterlah bangsaku.(*)