Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Indeks Berita

[JFK PEDULI] JFK Bantu Kepulangan Jenazah Warga Toraja Dari Taiwan

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:20 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-07T06:37:53Z

 

Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang sekaligus Ketua Umum IKaTNUS saat mengikuti acara Munas IKaTNUS beberapa waktu lalu.

JAKARTA – Kabar duka datang dari perantauan. Seorang pekerja migran asal Toraja bernama Mathius Pulo (31), yang bekerja sebagai nelayan di kapal penangkap ikan berbendera Taiwan, dilaporkan meninggal dunia saat kapal berada di wilayah perairan Samoa. Mathius yang lahir pada tahun 1995 diketahui telah lama bekerja di sektor perikanan luar negeri.


Kabar duka tersebut langsung menggugah kepedulian banyak pihak, termasuk Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (P) Drs. Frederik Kalalembang yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IKaTNUS), segera bergerak membantu proses pemulangan jenazah.


Mathius sendiri dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia keturunan Toraja lalu tinggal bersama pamannya Yance di Balikpapan dan merupakan alumni SMK Negeri 5 Balikpapan dengan jurusan yang berkaitan dengan perkapalan. Sejak muda ia sudah memiliki semangat untuk bekerja di sektor kelautan dan perikanan. Selama bekerja di luar negeri, Mathius dikenal oleh keluarga sebagai pribadi yang tekun dan jarang mengeluh demi membantu keluarga di kampung halaman.


Proses Panjang di Laut Hingga Taiwan

Ketua DPD Serikat Buruh Pekerja Migran Nelayan di Taiwan Novian, yang dihubungi menjelaskan bahwa Mathius meninggal sekitar tiga hari sebelum informasi tersebut sampai kepada pihak serikat pekerja. Saat ini jenazah masih berada di kapal nelayan yang sedang berlayar menuju Taiwan.


“Saya dari serikat pekerja di Taiwan mendapat laporan dari agency yang mengirim Mathius bahwa tiga hari lalu almarhum meninggal di fishing ground wilayah Samoa. Kapal nelayan ini masih beroperasi dan menuju pangkalan di Taiwan,” jelas Novian.


Ia memperkirakan kapal yang membawa jenazah Mathius akan tiba di Taiwan sekitar tanggal 18 hingga 19 bulan Maret ini. Setelah tiba, prosedur resmi harus dijalankan sesuai aturan yang berlaku di Taiwan. 

Foto Mathius Pulo semasa hisup


“Biasanya setelah sampai di Taiwan akan dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian. Setelah itu jenazah diserahkan kepada atase pemerintah dan pihak KBRI, lalu ke agency yang mengirim Mathius ke Taiwan untuk diserahkan kepada keluarga atau ahli waris,” ujarnya.


Keluarga Berharap Jenazah Pulang ke Toraja

Di Indonesia, keluarga almarhum masih menunggu kepastian proses pemulangan. Yance, paman Mathius, mengatakan pihak keluarga awalnya sangat terpukul sekaligus kebingungan ketika menerima kabar tersebut. Mathius sendiri diketahui sudah 10 tahun bekerja di Taiwan.


Dalam situasi yang penuh duka itu, keluarga bahkan sempat menerima telepon dari beberapa pihak yang menawarkan bantuan pemulangan jenazah dengan meminta sejumlah biaya. Hal tersebut membuat keluarga semakin khawatir di tengah kesedihan yang mereka rasakanKarena itu keluarga akhirnya mencari kontak dan meminta bantuan kepada anggota DPR RI Irjen Pol (P) Drs Frederik Kalalembang sekaligus sebagai Ketum IKaT Nusantara agar proses tersebut bisa dikawal dengan baik, dan langsung direspon. “Kami berharap jenazah bisa sampai di Toraja, tempat orang tuanya tinggal. Karena itu kami meminta Pak Frederik untuk membantu mengawal proses ini,” kata Yance.


Frederik Kalalembang Langsung Bergerak Membantu

Mendengar kabar tersebut, Frederik Kalalembang langsung merespons dan melakukan komunikasi dengan berbagai pihak di Taiwan. Ia berkoordinasi dengan serikat pekerja migran nelayan serta menjalin komunikasi dengan KBRI di Taiwan agar proses identifikasi, pemeriksaan hingga pemulangan jenazah dapat berjalan lancar.


Frederik menegaskan bahwa ia siap membantu keluarga hingga jenazah Mathius dapat kembali ke tanah kelahirannya di Toraja.


“Saya mendapat informasi dari keluarga bahwa ada anak Toraja yang meninggal di kapal nelayan di Taiwan. Saya langsung berkomunikasi dengan pihak serikat pekerja dan KBRI agar proses pemulangan bisa dibantu dan berjalan dengan baik,” ujar Frederik.


Ia juga mengingatkan keluarga agar tetap berhati-hati terhadap berbagai informasi yang beredar, terutama jika ada pihak yang mengaku dapat membantu tetapi meminta sejumlah biaya.


“Saya juga menyampaikan kepada keluarga agar tidak mudah percaya dengan informasi yang simpang siur. Kadang di saat orang sedang berduka, ada saja pihak yang mencoba memanfaatkan keadaan dengan menawarkan bantuan namun meminta uang, pasahal perusahaan harusnya punya tanggung jawab memulangkan jenazah dengan biaya perusahaan termasuk Asuransi dan saya sudah koordinasikan, Jadi hati-hati dengan penipuan berkedok bantuan, ” terang Frederik.


Frederik menambahkan bahwa setiap warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri tetap menjadi tanggung jawab moral bersama ketika menghadapi kesulitan atau musibah. “Jika ada anak kita yang merantau dan mengalami musibah, kita tidak boleh membiarkan keluarganya berjalan sendiri. Kita harus hadir untuk membantu semampu yang kita bisa,” katanya.


Frederik Kalalembang yang juga Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja Nusantara (IKaTNus) menyampaikan agar masyarakat tidak pernah ragu untuk berkomunikasi dengannya, terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan dan merasa tidak memiliki tempat untuk mengadu. Ia menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia merupakan amanah yang harus dijaga dan direspons dengan kepedulian.


Ia menambahkan banyak anak-anak bangsa yang berlayar jauh meninggalkan kampung halaman demi masa depan keluarga. Namun ketika takdir berkata lain, yang dapat dilakukan adalah memastikan mereka pulang dengan layak.


“Karena sejauh apa pun seseorang merantau, pada akhirnya hatinya selalu ingin kembali ke tanah kelahirannya,” ungkapnya. (*)